MONITOR KALTENG, PALANGKA RAYA — Menyikapi informasi mengenai keretakan pada bagian box di Jalan Belibis, Kota Palangka Raya, Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kota Palangka Raya melalui UPT Pemeliharaan Jalan menyampaikan penjelasan sekaligus permohonan maaf kepada masyarakat di kawasan Jalan Belibis dan sekitarnya.
Pihak PUPR menjelaskan, kondisi yang terlihat di lapangan bukan merupakan keretakan pada konstruksi atau struktur box. Keretakan terjadi pada adukan semen sisa yang sebelumnya diratakan oleh pekerja di bagian atas oprit atau timbunan bekas galian.
“Mohon maaf kepada masyarakat di daerah Jalan Belibis dan sekitarnya atas kerusakan atau penurunan timbunan di oprit box Jalan Belibis,” ujar kepala UPT Pemeliharaan Jalan PUPR Kota Palangka Raya Wasono Aji.
Menurut PUPR, penurunan tersebut berkaitan dengan proses pemadatan timbunan bekas galian. Material timbunan memang membutuhkan waktu untuk mencapai kondisi padat dan stabil. Dalam proses tersebut, penurunan masih dapat terjadi sehingga permukaan di atasnya ikut mengalami perubahan.
Karena itu, PUPR memilih untuk tidak terburu-buru melakukan pengecoran kembali sebelum kondisi timbunan benar-benar stabil.
Sebagai langkah penanganan, pada Senin, 3 Agustus 2026, PUPR telah membongkar sisa adukan semen yang mengalami keretakan. Area tersebut kemudian kembali ditimbun dan akan terus dipantau secara berkala.
“Setiap dua hari sekali kita pantau dan kita tambah agregatnya. Kalau memang sudah padat, baru kita cor,” jelas pihak UPT Pemeliharaan Jalan.
Langkah tersebut dilakukan agar perbaikan tidak hanya bersifat sementara. Pemadatan timbunan menjadi perhatian utama sebelum permukaan kembali diperkeras, sehingga diharapkan hasil akhirnya lebih stabil dan dapat memberikan kenyamanan bagi masyarakat yang menggunakan Jalan Belibis.
PUPR: Kami Terus Pantau
PUPR juga memastikan bahwa kondisi di lokasi tidak dibiarkan begitu saja. Pemantauan dilakukan secara berkala untuk melihat apakah masih terjadi penurunan pada timbunan.
Jika diperlukan, material agregat akan kembali ditambahkan sampai kondisi timbunan dinilai cukup padat. Setelah stabil, barulah dilakukan pengecoran.
Bagi PUPR, proses tersebut merupakan bagian dari pekerjaan pemeliharaan dan penanganan di lapangan. Masyarakat juga diharapkan tidak perlu khawatir karena kondisi tersebut sedang ditangani secara bertahap.
“Kita pantau terus sampai padat. Setelah kondisinya memungkinkan, baru kita lakukan pengecoran,” demikian penjelasan pihak PUPR. Wasono Aji. Senin 3 Agustus 2026.
Soal Plang Pekerjaan
Mengenai tidak terlihatnya plang pekerjaan di lokasi, PUPR menjelaskan bahwa pekerjaan pada box Jalan Belibis tersebut dilaksanakan secara swakelola.
Karena sifat pekerjaannya merupakan swakelola, pihak PUPR menyebut tidak memasang plang proyek sebagaimana yang umumnya terlihat pada pekerjaan konstruksi yang dilaksanakan melalui mekanisme penyedia.
Penjelasan tersebut disampaikan PUPR sebagai bentuk keterbukaan kepada masyarakat sekaligus untuk meluruskan informasi yang berkembang mengenai kondisi di Jalan Belibis.
Pada akhirnya, PUPR menegaskan bahwa yang terpenting saat ini adalah memastikan kondisi oprit kembali stabil dan aman digunakan masyarakat.
Prosesnya mungkin membutuhkan waktu karena timbunan harus benar-benar padat sebelum dilakukan pengecoran. Namun, selama proses tersebut, PUPR memastikan lokasi tetap menjadi perhatian dan akan dipantau secara berkala.
Bagi masyarakat Jalan Belibis, pesan yang ingin disampaikan sederhana: PUPR mendengar perhatian warga, memahami kekhawatiran yang muncul, dan terus melakukan penanganan hingga kondisi di lapangan benar-benar baik.
Dengan komunikasi yang terbuka dan penanganan yang dilakukan secara bertahap, diharapkan persoalan tersebut dapat segera diselesaikan dan Jalan Belibis kembali memberikan rasa aman serta nyaman bagi masyarakat yang melintas setiap hari.(Red)













