MONITOR KALTENG, PALANGKA RAYA – Meningkatnya kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) yang mulai memicu kabut asap di sejumlah wilayah Kalimantan Tengah (Kalteng) mendapat perhatian serius dari DPRD Kalteng. Kondisi tersebut dinilai memerlukan langkah cepat, terukur, dan terkoordinasi agar kebakaran tidak semakin meluas serta dampaknya terhadap kesehatan masyarakat dapat diminimalkan.
Sebagai bentuk dukungan terhadap upaya penanggulangan Karhutla, DPRD memastikan anggaran Belanja Tidak Terduga (BTT) sebesar Rp70 miliar yang telah dialokasikan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kalteng siap dimanfaatkan. Dana tersebut dipersiapkan untuk mendukung berbagai kebutuhan penanganan bencana, termasuk Karhutla yang setiap tahun menjadi ancaman di wilayah Kalteng.
Wakil Ketua Komisi III DPRD Kalteng, Tomy Irawan Diran, mengatakan anggaran BTT memang diperuntukkan bagi kondisi darurat, sehingga dapat digunakan untuk mempercepat penanganan kebakaran hutan dan lahan.
“Untuk BTT, tahun ini ada anggaran sekitar Rp70 miliar. Dana ini pasti bisa digunakan karena Karhutla termasuk bencana alam. Persiapan dari pihak-pihak yang berwenang tentu sudah dilakukan,” ujarnya, Senin (27/7).
Menurut Tomy, anggaran tersebut harus dimanfaatkan secara optimal untuk mendukung seluruh kebutuhan di lapangan. Penggunaannya tidak hanya untuk operasi pemadaman, tetapi juga penyediaan logistik bagi petugas, kelengkapan operasional, hingga langkah-langkah mitigasi dampak kabut asap terhadap masyarakat.
Ia menilai kecepatan dalam merealisasikan anggaran menjadi faktor penting dalam pengendalian Karhutla. Setiap titik api yang terdeteksi harus segera ditangani sebelum meluas, karena keterlambatan hanya akan memperbesar area yang terbakar sekaligus meningkatkan kebutuhan biaya penanganan.
Tomy mengaku prihatin dengan memburuknya kualitas udara dalam waktu singkat akibat meningkatnya kebakaran di sejumlah wilayah. Menurutnya, kabut asap yang sebelumnya belum begitu terlihat kini mulai menyelimuti sejumlah kawasan.
“Saya juga kaget. Kemarin masih baik-baik saja, ternyata hari ini kabut asap tiba-tiba makin tebal. Saya mendapat informasi ada kebakaran besar di daerah Tumbang Nusa, jadi harus segera direspons cepat,” katanya.
Ia menegaskan bahwa penanganan pada fase awal merupakan langkah paling efektif untuk mencegah meluasnya kebakaran. Karena itu, seluruh sumber daya yang dimiliki pemerintah harus segera dikerahkan begitu titik api ditemukan.
Apabila kondisi medan menyulitkan petugas menjangkau lokasi kebakaran melalui jalur darat, Tomy mendorong agar opsi pemadaman dari udara segera dioptimalkan.
“Water bombing pasti harus segera diturunkan. Penanganan dini adalah kunci utama,” tegasnya.
Lebih lanjut, Tomy menilai langkah cepat tersebut bukan hanya bertujuan memadamkan api, tetapi juga melindungi masyarakat dari dampak kabut asap yang berpotensi mengganggu kesehatan, aktivitas ekonomi, transportasi, hingga proses belajar mengajar.
Selain itu, ia juga mendorong penguatan koordinasi lintas sektor yang melibatkan pemerintah daerah, BPBD, Manggala Agni, TNI-Polri, relawan, serta perusahaan-perusahaan yang berada di sekitar wilayah rawan Karhutla. Menurutnya, sinergi seluruh pihak menjadi faktor penting dalam meningkatkan efektivitas penanganan kebakaran.
“Kami berharap seluruh instansi terkait bergegas memanfaatkan anggaran yang tersedia. Penanganan sejak dini jauh lebih baik daripada menunggu api membesar. Keselamatan warga dan terjaganya kualitas udara adalah prioritas utama kita saat ini,” pungkasnya. (red)













