Example 728x250

Wabup Seruyan: Karhutla Tak Akan Berakhir Jika Mindset Masyarakat Tak Berubah

MONITOR KALTENG, KUALA PEMBUANG — Pemerintah Kabupaten Seruyan bersama jajaran TNI menegaskan bahwa pencegahan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tidak cukup hanya mengandalkan personel, peralatan, dan teknologi pemadaman. Perubahan pola pikir masyarakat dinilai menjadi kunci untuk memutus siklus karhutla yang terus berulang setiap tahun.

Pernyataan tersebut disampaikan Wakil Bupati Seruyan saat menghadiri kegiatan sosialisasi dan edukasi pencegahan karhutla yang digelar tim Satuan Tugas (Satgas) utusan pemerintah pusat di SMKN 1 Kuala Pembuang, Selasa (8/9/2026).

Wakil Bupati Seruyan mengapresiasi kedatangan tim Satgas yang dipimpin Dansatgas Penyuluhan Karhutla Prov. Kalteng, Brigjen TNI (Mar) Citro Subono didampingi Wadan Satgas Penyuluhan Karhutla Prov. Kalteng, Laksma TNI Bambang Wasito untuk memberikan edukasi langsung kepada masyarakat, khususnya generasi muda, mengenai bahaya dan pencegahan karhutla di Kabupaten Seruyan.

“Kami mengucapkan terima kasih kepada kawan-kawan tim Satgas yang diutus dari pusat dan langsung dipimpin Pak Citro. Kami memberikan apresiasi yang setinggi-tingginya,” ujar Wakil Bupati saat ditemui di Aula SMKN 1 Kuala Pembuang.

Menurutnya, karhutla bukan semata persoalan pemerintah dan aparat keamanan. Upaya pencegahan membutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat, terutama dalam menghentikan praktik pembukaan dan pembersihan lahan dengan cara membakar.

Ia menilai, selama kebiasaan tersebut masih dilakukan, penanganan karhutla akan terus menghadapi persoalan yang sama setiap musim kemarau.

“Masalah karhutla ini tidak hanya bisa selesai dalam satu tahun, tetapi terus berulang. Oleh karena itu, tugas generasi kita ke depan sangat diharapkan,” katanya.

Senada dengan Wakil Bupati, Brigjen TNI (Mar) Citro  Subono mengatakan kedatangannya bersama tim Mabes TNI merupakan bagian dari penugasan Panglima TNI atas instruksi Presiden. Tim tersebut diturunkan untuk memberikan penyuluhan sekaligus mendorong perubahan perilaku masyarakat dalam mencegah karhutla.

Menurut Citro Subono, kecanggihan peralatan pemadam tidak akan menyelesaikan persoalan jika sumber masalah dari sisi perilaku masyarakat tidak dibenahi.

“Secanggih alat apa pun yang diturunkan, apabila mindset masyarakat Seruyan atau masyarakat yang ada di Kalteng tidak bisa berubah, masalah ini tidak akan teratasi,” tegasnya.

Ia menegaskan perubahan pola pikir masyarakat harus menjadi bagian utama dari strategi pencegahan karhutla. Sebab, penanganan kebakaran hanya akan bersifat sementara apabila setelah api padam kebiasaan lama kembali dilakukan.

“Kalau ini selesai tetapi mindset belum terbentuk, tahun depan akan berulang lagi. Jadi, mindset ini sangat penting,” ujarnya.

Selain memberikan edukasi, pemerintah pusat juga menyiapkan dukungan peralatan untuk memperkuat upaya pencegahan dan penanganan karhutla di lapangan.

Citro mengungkapkan, terdapat dua unit ekskavator yang akan didukung pemerintah pusat melalui Kodam untuk dikirim ke wilayah Korem Sampit.

Namun, pengerahan alat berat tersebut masih menghadapi kendala akses. Salah satunya karena terdapat jembatan yang sedang dalam proses perbaikan di sekitar Kilometer 7 wilayah Katingan.

Jika akses sudah memungkinkan, dua ekskavator tersebut dapat dimanfaatkan untuk mendukung upaya mitigasi karhutla, termasuk memperdalam parit yang mengalami pendangkalan, mengeruk aliran air yang tidak lancar, serta membantu membuat embung atau danau sebagai sumber cadangan air.

Menurut Citro, ketersediaan sumber air menjadi faktor penting dalam menghadapi kondisi darurat karhutla.

“Untuk mengatasi karhutla apabila terjadi darurat, diperlukan cadangan air. Karena saat terjadi darurat dan air tidak ada, yang bisa dilakukan hanya memukul-mukul api dengan ranting,” jelasnya.

Pihaknya akan kembali berkoordinasi dengan Korem untuk menentukan lokasi serta bentuk dukungan yang diperlukan setelah persoalan akses dapat diatasi.

Upaya tersebut menunjukkan bahwa penanganan karhutla tidak cukup dilakukan ketika api sudah membesar. Pencegahan harus dimulai dari perubahan perilaku masyarakat, kesiapan sarana dan prasarana, hingga ketersediaan sumber air di wilayah rawan kebakaran.

Dengan demikian, edukasi kepada generasi muda dan penguatan kesiapsiagaan di tingkat masyarakat menjadi bagian penting untuk memastikan persoalan karhutla tidak kembali menjadi ancaman tahunan di Kabupaten Seruyan dan Kalimantan Tengah.(*As)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You cannot copy content of this page