MONITOR KALTENG, PALANGKA RAYA — Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali muncul di kawasan perbatasan Kelurahan Bereng Bengkel dan Kelurahan Kalampangan, Kecamatan Sabangau, Kota Palangka Raya, Rabu (19/8/2026).
Munculnya kembali api di kawasan tersebut menjadi perhatian serius. Tim pemadam karhutla harus menghadapi kendala di lapangan, salah satunya sulitnya mendapatkan sumber air untuk mendukung proses pemadaman.
Kondisi ini membuat upaya penanganan api menjadi lebih berat. Petugas tidak hanya harus mengejar titik api, tetapi juga memastikan ketersediaan air agar proses pemadaman dapat dilakukan secara berkelanjutan.
Persoalan semakin menjadi sorotan karena fasilitas sumber air yang seharusnya dapat mendukung penanganan karhutla disebut belum optimal. Sejumlah akses air dan sumur bor di kawasan tersebut dilaporkan tidak berfungsi, sehingga petugas mengalami kesulitan ketika membutuhkan pasokan air dalam jumlah memadai.
Padahal, kawasan Bereng Bengkel dan Kalampangan merupakan wilayah yang memiliki kerawanan terhadap kebakaran lahan. Kondisi lahan dan akses menuju sejumlah titik kebakaran membuat kesiapan sarana pemadaman menjadi faktor penting dalam mencegah api meluas.
Data pemantauan pada 19 Agustus 2026 juga menunjukkan adanya deteksi hotspot di wilayah Kalampangan dan Bereng Bengkel. Namun, hotspot merupakan indikator anomali panas sehingga tetap membutuhkan verifikasi lapangan untuk memastikan apakah benar terjadi kebakaran.
Sumber Air Jadi Persoalan
Kesulitan mendapatkan air menjadi persoalan yang tidak bisa dianggap sepele dalam penanganan karhutla. Ketika sumber air sulit dijangkau atau fasilitas yang tersedia tidak berfungsi, petugas berpotensi membutuhkan waktu lebih lama untuk mengendalikan api.
Kondisi tersebut juga meningkatkan risiko api kembali muncul setelah sebelumnya berhasil dipadamkan, terutama apabila bara api masih berada di dalam lapisan lahan.
Karena itu, pemerintah dan instansi terkait perlu memastikan seluruh sarana pendukung penanganan karhutla benar-benar dalam kondisi siap digunakan, bukan sekadar tersedia di atas kertas.
Keberadaan sumur bor, sumber air, akses menuju lokasi serta sarana pendukung lainnya harus dipastikan berfungsi sebelum situasi semakin memburuk.
Jangan Tunggu Api Meluas
Munculnya kembali kebakaran di kawasan perbatasan Bereng Bengkel–Kalampangan menjadi peringatan bahwa kesiapsiagaan menghadapi karhutla tidak cukup hanya mengandalkan petugas ketika api sudah membesar.
Pemerintah perlu memastikan titik-titik rawan memiliki sumber air yang memadai dan dapat digunakan sewaktu-waktu. Jika fasilitas yang sudah dibangun tidak berfungsi saat dibutuhkan, maka efektivitas penanganan karhutla patut dipertanyakan.
Masyarakat juga berharap penanganan tidak berhenti setelah api berhasil dipadamkan. Pemantauan dan patroli harus terus dilakukan untuk memastikan tidak ada bara yang kembali memicu kebakaran.
Sebab, persoalan karhutla bukan hanya tentang memadamkan api, tetapi juga tentang seberapa siap pemerintah mencegah api meluas ketika sumber air dan akses menjadi kendala di lapangan.
Jika kondisi tersebut terus berulang tanpa pembenahan sarana dan sistem penanganan, bukan tidak mungkin kebakaran berikutnya kembali terjadi dengan dampak yang lebih luas.
(Redaksi/Gunawan)













