Example 728x250

Abdul Hafid Dorong Penguatan Sekolah Rakyat, Harapan Baru bagi Anak dari Keluarga Tidak Mampu

MONITOR KALTENG, SAMPIT – Keceriaan tampak menghiasi wajah anak-anak Sekolah Rakyat (SR) di Sampit saat Anggota Komisi IV DPRD Provinsi Kalimantan Tengah, Abdul Hafid, meninjau aktivitas pendidikan di sekolah tersebut, belum lama ini.

Sejumlah siswa menyambut kedatangannya dengan antusias. Di kawasan sekolah yang luas, sebagian anak terlihat bermain dan berolahraga bersama teman-temannya, termasuk bermain sepak bola. Suasana tersebut memperlihatkan aktivitas keseharian para siswa di lingkungan pendidikan berasrama itu.

Namun, di balik keceriaan tersebut, para siswa datang dengan latar belakang kehidupan yang beragam. Sebagian berasal dari keluarga kurang mampu dan menghadapi berbagai keterbatasan sosial maupun ekonomi. Ada pula anak yang kehilangan orang tua serta membutuhkan pendampingan dalam meningkatkan kemampuan dasar, seperti membaca dan menulis.

Bagi Abdul Hafid, kondisi tersebut menunjukkan pentingnya keberadaan Sekolah Rakyat sebagai salah satu upaya membuka akses pendidikan bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu.

Menurutnya, program tersebut tidak hanya menyediakan tempat untuk belajar, tetapi juga memberikan kesempatan kepada anak-anak yang berada dalam keterbatasan untuk memperoleh pendidikan dan mempersiapkan masa depan.

“Kita berharap betul Sekolah Rakyat ini bisa menjadi solusi terhadap kebutuhan pendidikan masyarakat tidak mampu. Apalagi sekolah ini gratis sepenuhnya. Jangan sampai keadaan ekonomi keluarga membuat seorang anak kehilangan kesempatan untuk sekolah dan meraih masa depannya,” kata Abdul Hafid.

Dalam kunjungannya, Abdul Hafid diterima Kepala Sekolah Rakyat Terintegrasi Kotawaringin Timur, Nikkon Bhastari, M.Pd., bersama sejumlah tenaga pendidik dan wali asuh.

Ia melihat langsung bahwa proses pembinaan siswa di Sekolah Rakyat memiliki tantangan tersendiri. Perbedaan karakter, kemampuan akademik, kondisi keluarga hingga pengalaman sosial membuat pendekatan terhadap setiap anak tidak dapat disamaratakan.

Menurut Abdul Hafid, peran guru dan wali asuh menjadi sangat penting, terutama karena Sekolah Rakyat menerapkan sistem pendidikan berasrama. Dengan sistem tersebut, pendampingan terhadap siswa tidak hanya berlangsung saat kegiatan belajar mengajar di dalam kelas, tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari.

“Saya melihat guru dan wali asuh membina mereka dengan hati. Ini pekerjaan yang tidak ringan. Anak-anak datang dengan karakter, kemampuan dan latar belakang yang berbeda. Mereka harus dirangkul, dibimbing dan diyakinkan bahwa mereka mempunyai masa depan,” ujarnya.

Abdul Hafid memberikan apresiasi kepada para guru dan wali asuh yang selama ini mendampingi para siswa. Menurutnya, anak-anak tidak hanya membutuhkan pembelajaran akademik, tetapi juga perhatian, rasa aman, kedisiplinan, kasih sayang serta lingkungan yang dapat menumbuhkan kepercayaan diri.

Sekolah Rakyat Kotawaringin Timur sebelumnya memulai kegiatan pendidikan di eks Asrama Haji Kompleks Islamic Center Sampit. Pada tahap rintisan tahun 2025, program tersebut menampung sebanyak 100 peserta didik tingkat sekolah dasar dan sekolah menengah atas.

Seiring pengembangan program, kegiatan pendidikan mulai menempati kompleks Sekolah Rakyat yang baru di kawasan Wengga Metropolitan, Sampit. Kompleks tersebut berdiri di atas lahan seluas sekitar 67.930 meter persegi atau hampir 6,8 hektare dan dirancang sebagai kawasan pendidikan berasrama yang terintegrasi.

Pembangunan kompleks Sekolah Rakyat tersebut kini memasuki tahap penyelesaian. Berdasarkan peninjauan Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur bersama BPKP Kalimantan Tengah pada pertengahan Agustus 2026, progres pembangunan dilaporkan telah mencapai sekitar 80 persen.

Abdul Hafid berharap penyelesaian pembangunan infrastruktur dapat diikuti dengan penguatan sumber daya manusia. Menurutnya, ketersediaan tenaga pendidik dan wali asuh masih menjadi salah satu hal yang perlu mendapat perhatian, seiring bertambahnya peserta didik dan berkembangnya aktivitas pendidikan di Sekolah Rakyat.

“Gedung yang bagus penting, fasilitas yang lengkap juga penting. Tetapi yang tidak kalah penting adalah orang-orang yang setiap hari mendampingi anak-anak ini. Guru dan wali asuh harus cukup karena merekalah yang memahami persoalan anak dan ikut membentuk karakter mereka,” tegasnya.

Ketua DPD PAN Kotawaringin Timur itu menilai keberhasilan Sekolah Rakyat pada akhirnya tidak cukup diukur dari kemegahan bangunan maupun jumlah peserta didik yang ditampung.

Menurutnya, ukuran keberhasilan yang lebih utama adalah sejauh mana pendidikan mampu memberikan perubahan positif terhadap kehidupan anak-anak yang sebelumnya tumbuh dalam berbagai keterbatasan.

Ia berharap Sekolah Rakyat dapat melahirkan generasi yang berpendidikan, berkarakter, mandiri dan memiliki keberanian untuk meraih cita-cita.

“Jangan melihat mereka dari keadaan hari ini. Kalau dibina dengan baik, diberikan pendidikan dan kesempatan yang sama, kita tidak pernah tahu, kelak dari anak-anak ini bisa lahir guru, pengusaha, tenaga profesional bahkan pemimpin,” katanya.

Sebagai salah satu program strategis pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, Abdul Hafid menilai pelaksanaan Sekolah Rakyat perlu terus dikawal dan dievaluasi agar tujuan program dapat tercapai secara optimal.

Menurutnya, berbagai kebutuhan pada tahap awal, termasuk terkait tenaga pendidik, wali asuh maupun fasilitas pendukung, perlu terus mendapat perhatian dan ditangani secara bertahap.

Bagi Abdul Hafid, investasi terbesar melalui Sekolah Rakyat bukan hanya pembangunan fisik berupa gedung dan fasilitas pendidikan, melainkan perubahan kehidupan anak-anak yang belajar dan tumbuh di dalamnya.

Anak-anak yang terlihat berlari dan bermain sepak bola di halaman sekolah mungkin belum sepenuhnya memahami perjalanan panjang yang akan mereka tempuh. Namun, melalui pendampingan guru dan wali asuh, mereka diharapkan memperoleh kesempatan untuk tumbuh, belajar dan membangun masa depan yang lebih baik.

“Kita ingin mereka tumbuh dengan keyakinan bahwa mereka sama berharganya dengan anak-anak lain dan mempunyai hak yang sama untuk bercita-cita. Kemiskinan jangan sampai mematikan harapan anak. Kalau Sekolah Rakyat mampu mengubah kehidupan mereka, maka negara bukan hanya membangun sekolah, tetapi sedang membangun masa depan sebuah generasi,” pungkasnya. (red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You cannot copy content of this page