MONITOR KALTENG, PALANGKA RAYA – Gubernur Kalimantan Tengah (Kalteng) Agustiar Sabran memanggil jajaran PT PLN (Persero) Unit Induk Distribusi (UID) Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah (Kalselteng) untuk memberikan penjelasan secara terbuka terkait pemadaman listrik bergilir yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir.
Pertemuan yang dilanjutkan dengan konferensi pers di Istana Isen Mulang, Palangka Raya, Kamis (30/7/2026), juga memaparkan peta jalan (roadmap) pemulihan sistem kelistrikan.
PLN menargetkan pemadaman bergilir dapat dihentikan mulai 5 Agustus 2026 seiring selesainya perbaikan salah satu pembangkit utama.
Gubernur Agustiar Sabran menegaskan Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah terus mengawal proses pemulihan jaringan listrik agar pelayanan kepada masyarakat dapat segera kembali normal.
Menurutnya, terganggunya pasokan listrik telah menimbulkan keresahan di tengah masyarakat sehingga perlu mendapat perhatian serius.
“Kegaduhan masyarakat Kalimantan Tengah adalah kegaduhan kami. Ketidaknyamanan masyarakat juga menjadi ketidaknyamanan kami. Karena itu saya memanggil langsung pihak PLN untuk memberikan penjelasan yang jelas kepada masyarakat,” ujar Agustiar.
Dalam kesempatan tersebut, General Manager PT PLN (Persero) UID Kalselteng Iwan Soelistijino menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat di Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan atas terganggunya pasokan listrik yang berdampak pada aktivitas sehari-hari.
Iwan menjelaskan, gangguan pasokan listrik pada sistem interkoneksi Kalimantan dipicu oleh kerusakan yang terjadi pada tiga unit pembangkit utama sejak pekan ketiga Juli 2026.
Gangguan pertama terjadi di PLTU PT SKS Listrik Kalimantan, Kabupaten Gunung Mas, akibat kebocoran pipa boiler pada 22 Juli 2026. Sehari berselang, generator di PLTU Asam-Asam mengalami kerusakan. Selanjutnya, pada 24 Juli 2026, gangguan juga terjadi pada sistem pelumasan turbin di PLTU PT Tanjung Power Indonesia (TPI) Tabalong.
Meski demikian, proses pemulihan disebut menunjukkan perkembangan positif. Salah satu unit PLTU PT Tanjung Power Indonesia (TPI) Tabalong berkapasitas 100 megawatt (MW) telah kembali beroperasi sejak 28 Juli 2026 atau dua hari lebih cepat dari jadwal yang diperkirakan.
Beroperasinya kembali pembangkit tersebut telah menambah pasokan daya ke sistem interkoneksi Kalimantan sehingga durasi pemadaman bergilir berangsur berkurang, dari rata-rata enam jam menjadi sekitar tiga jam per hari.
PLN selanjutnya menargetkan perbaikan PLTU PT SKS Listrik Kalimantan di Gunung Mas yang memiliki kapasitas 100 MW rampung pada 5 Agustus 2026. Jika pembangkit tersebut kembali beroperasi sesuai jadwal, pasokan listrik diproyeksikan mampu memenuhi kebutuhan sehingga pemadaman bergilir tidak lagi diberlakukan.
Namun demikian, Iwan menjelaskan sistem kelistrikan masih akan berada dalam status siaga karena cadangan daya belum sepenuhnya pulih hingga seluruh pembangkit kembali beroperasi normal.
“Dengan demikian kondisi kelistrikan tidak ada lagi pemadaman, tetapi masih dalam kondisi siaga dengan cadangan daya yang masih terbatas. Jadi maksudnya siaga itu tidak ada padam, tetapi cadangannya masih kecil,” jelas Iwan.
Ia menambahkan, pemulihan sistem secara menyeluruh baru akan tercapai setelah perbaikan PLTU Asam-Asam selesai. Pembangkit tersebut ditargetkan kembali masuk ke sistem interkoneksi Kalimantan pada 25 Agustus 2026 sehingga cadangan daya dapat kembali normal dan keandalan pasokan listrik semakin terjaga.
PLN menyatakan telah mengerahkan seluruh personel dan sumber daya yang tersedia untuk mempercepat proses perbaikan di seluruh pembangkit yang mengalami gangguan.
Selain itu, perusahaan berkomitmen menyampaikan perkembangan penanganan secara berkala kepada masyarakat sebagai bentuk transparansi selama proses pemulihan sistem kelistrikan berlangsung. (red)













