Example 728x250

Ketua DPRD Seruyan Desak Pusat Tingkatkan Bandara Kapten Mulyono, Siapkan Alternatif Saat Karhutla Lumpuhkan Penerbangan

Ketua DPRD Kabupaten Seruyan, Zuli Eko Prasetyo, mendesak pemerintah pusat memberi perhatian serius terhadap pengembangan Bandara Kapten Mulyono di Kuala Pembuang, Kalimantan Tengah.

MONITOR KALTENG, KUALA PEMBUANG – Ketua DPRD Kabupaten Seruyan, Zuli Eko Prasetyo, mendesak pemerintah pusat memberi perhatian serius terhadap pengembangan Bandara Kapten Mulyono di Kuala Pembuang, Kalimantan Tengah.

Bandara tersebut dinilai berpotensi menjadi alternatif transportasi udara ketika kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mengganggu operasional penerbangan di sejumlah wilayah.

Zuli Eko menilai, kondisi geografis Kuala Pembuang yang relatif tidak terdampak kabut asap selama karhutla melanda Kalimantan Tengah menjadi peluang strategis untuk meningkatkan fungsi bandara tersebut. Namun, peluang itu perlu diimbangi dengan pembangunan infrastruktur dan fasilitas penerbangan yang memadai.

Menurutnya, Bandara Kapten Mulyono tidak boleh hanya dipandang sebagai fasilitas transportasi udara berskala kecil. Dengan pengembangan yang terencana, bandara tersebut berpotensi memperkuat konektivitas udara sekaligus menjadi salah satu pilihan ketika penerbangan di daerah lain terganggu akibat bencana kabut asap.

“Bandara ini meskipun masih kecil, lokasinya menjadi salah satu, bahkan mungkin satu-satunya bandara yang tidak terkena dampak karhutla di wilayah Kalimantan Tengah,” kata Zuli Eko di Kuala Pembuang, Selasa (20/10/2026).

Zuli Eko menjelaskan, kabut asap akibat karhutla dapat mengganggu operasional penerbangan di sejumlah bandara. Kondisi tersebut berpotensi memicu keterlambatan hingga pembatalan penerbangan, yang pada akhirnya berdampak terhadap mobilitas masyarakat.

Dampaknya tidak sebatas pada perjalanan penumpang. Gangguan transportasi udara juga dapat menghambat aktivitas pemerintahan, pelayanan masyarakat, serta kegiatan ekonomi dan bisnis yang membutuhkan konektivitas antardaerah.

Karena itu, ia menilai pemerintah perlu melihat pengembangan Bandara Kapten Mulyono sebagai bagian dari upaya memperkuat ketahanan transportasi udara, terutama di tengah ancaman karhutla yang berulang di Kalimantan Tengah.

Meski demikian, dugaan bahwa posisi Kuala Pembuang di kawasan pesisir dan relatif dekat dengan laut membuat wilayah tersebut tidak terlalu terdampak kabut asap tetap perlu didukung kajian teknis.

Penilaian tersebut penting untuk memastikan keandalan operasional bandara berdasarkan kondisi cuaca, jarak pandang, keselamatan penerbangan, serta kesiapan fasilitas pendukung.

 

Untuk merealisasikan potensi tersebut, Zuli Eko meminta Presiden melalui Kementerian Perhubungan memberikan perhatian khusus terhadap Bandara Kapten Mulyono. Ia berharap peningkatan infrastruktur bandara itu dapat dipertimbangkan sebagai bagian dari proyek strategis nasional.

Menurutnya, dukungan pemerintah pusat diperlukan agar fasilitas bandara dapat ditingkatkan sesuai standar keselamatan dan kebutuhan operasional penerbangan. Dengan demikian, bandara tersebut tidak hanya mendukung mobilitas masyarakat Seruyan, tetapi juga berpotensi memperluas akses transportasi udara di Kalimantan Tengah.

“Saya berharap kepada Bapak Presiden melalui Kementerian Perhubungan agar melirik bandara ini dan mempertimbangkannya menjadi proyek strategis nasional, untuk membantu membangun atau meningkatkan infrastrukturnya agar benar-benar layak untuk penerbangan, setidaknya penerbangan nasional,” ujarnya.

Ia menegaskan, pengembangan Bandara Kapten Mulyono harus menjadi perhatian pemerintah, mengingat konektivitas udara memiliki peran penting dalam mendukung pemerataan pembangunan dan pertumbuhan ekonomi daerah.

Bagi Seruyan, peningkatan infrastruktur bandara diharapkan dapat membuka peluang konektivitas yang lebih baik, memperlancar mobilitas masyarakat, serta memperkuat akses terhadap pusat-pusat kegiatan ekonomi dan pemerintahan.

“Harapan kami sekali lagi kepada Bapak Presiden agar Bandara Kuala Pembuang ini menjadi pertimbangan untuk dikembangkan,” pungkasnya.

Pengembangan Bandara Kapten Mulyono kini menjadi usulan strategis agar Seruyan memiliki konektivitas udara yang lebih kuat. Namun, realisasinya tetap membutuhkan kajian kelayakan, dukungan infrastruktur, serta keputusan pemerintah pusat sesuai kebutuhan transportasi dan standar keselamatan penerbangan.(*As)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You cannot copy content of this page