MONITOR KALTENG, SERUYAN, — Musim kemarau tidak boleh menjadi alasan lahan pertanian berhenti menghasilkan. Pemerintah Kabupaten Seruyan mendorong petani memanfaatkan lahan sawah di luar musim tanam padi untuk komoditas hortikultura bernilai ekonomi, seperti semangka dan mentimun.
Bupati Seruyan Ahmad Selanorwanda bersama jajaran teknis Dinas Pertanian turun langsung ke lapangan untuk meninjau budidaya semangka yang dikembangkan kelompok tani di wilayah Berdikari, Kamis (16/9/2026).
Peninjauan tersebut dilakukan untuk melihat secara langsung potensi pemanfaatan lahan pertanian selama masa kemarau. Hasil budidaya semangka di lahan tersebut dinilai cukup menjanjikan dan dapat menjadi alternatif pendapatan bagi petani sebelum memasuki musim tanam padi berikutnya.
Ketua Gabungan Kelompok Tani setempat, Rukamto, mengatakan semangka memiliki masa tanam relatif singkat, sekitar 60 hari. Dalam satu hektare lahan, produksi disebut dapat mencapai sedikitnya dua ton.
“Semangka ini minimal satu hektare dua ton, berarti Rp20 juta, Umurnya hanya 60 hari. Kemudian perawatan, modal dalam satu hektare tidak sampai Rp3 juta,” ujar Rukamto.
Menurut Rukamto, mentimun juga berpotensi dikembangkan karena masa panennya lebih cepat, sekitar 28 hari. Pengembangan hortikultura tersebut dinilai dapat membuka peluang bagi Seruyan untuk memenuhi kebutuhan sayuran sendiri sekaligus memasok daerah sekitar.
“Kita ini penyangga Kota Sampit. Sekarang sayuran datangnya dari Sampit. Seharusnya kita yang menjual ke Sampit,” katanya.
Rukamto meminta pemerintah daerah tidak berhenti pada peningkatan produksi. Persoalan pemasaran dan penyerapan hasil panen juga harus menjadi perhatian agar petani memiliki kepastian ketika komoditas mulai dipanen.
Di sisi lain, persiapan menghadapi musim tanam padi Oktober-Maret (Okmar) mulai dikebut. Petani diminta memanfaatkan September untuk membersihkan dan menyiapkan lahan sehingga ketika musim tanam tiba, lahan sudah siap digunakan.
Rukamto juga mendorong penggunaan bibit unggul, pemupukan yang tepat, serta pendampingan penyuluh secara lebih intensif. Menurutnya, kehadiran penyuluh di tengah petani penting untuk membahas kebutuhan dan persoalan teknis secara langsung.
Bupati Seruyan Ahmad Selanorwanda menegaskan bahwa pola pengelolaan pertanian harus berubah. Lahan sawah tidak seharusnya hanya produktif ketika musim tanam padi berlangsung.
Menurut dia, masa jeda harus dimanfaatkan dengan komoditas yang sesuai dengan kondisi lahan dan memiliki nilai ekonomi. Perencanaan juga harus mencakup infrastruktur irigasi, pemilihan komoditas, pembinaan petani hingga pemasaran.
“Saya perlukan orang-orang Dinas Pertanian yang tanggap, yang proaktif. Mudah-mudahan ke depannya lebih bagus,” tegas Wanda.
Ia meminta jajaran Dinas Pertanian lebih aktif turun ke lapangan dan memastikan potensi pertanian di tingkat petani benar-benar dikembangkan.
Pemanfaatan lahan sawah pada musim kemarau tersebut diharapkan tidak hanya menjaga produktivitas lahan, tetapi juga meningkatkan pendapatan petani dan mengurangi ketergantungan Seruyan terhadap pasokan komoditas hortikultura dari daerah lain.(*As)













