MONITOR KALTENG, KUALA PEMBUANG – Pemerintah Kabupaten Seruyan kembali menegaskan komitmennya menjaga warisan budaya daerah. Wakil Bupati Seruyan H.supian membuka secara resmi Festival Budaya Gawi Hatantiring Kabupaten Seruyan Tahun 2026 di kawasan Islamic Center Kuala Pembuang, Kamis (13/8/2026).
Festival tersebut digelar dalam rangka memperingati Hari Jadi ke-24 Kabupaten Seruyan sekaligus menyemarakkan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia. Tak sekadar seremoni, ajang budaya ini menjadi panggung untuk mempertahankan identitas daerah sekaligus menjaring talenta terbaik Seruyan untuk berlaga di tingkat provinsi.
Festival Gawi Hatantiring berlangsung selama tujuh hari, mulai 13 hingga 19 Agustus 2026. Sejumlah kegiatan dipusatkan di halaman Islamic Center Kuala Pembuang dan lokasi lainnya, seperti Aula Dinas Kepemudaan, Olahraga, Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Seruyan serta Tennis Indoor Kuala Pembuang.
Wakil Bupati Seruyan H.Supian menegaskan, festival tahunan tersebut memiliki target yang lebih besar. Para seniman dan budayawan berprestasi yang lahir dari kompetisi ini akan dipersiapkan untuk membawa nama Seruyan pada Festival Budaya Isen Mulang 2027.
“Festival Budaya Gawi Hatantiring merupakan event tahunan yang dilaksanakan dalam rangka Hari Jadi ke-24 Kabupaten Seruyan, sekaligus menjadi ajang untuk mencari seniman dan budayawan berprestasi yang akan mewakili Kabupaten Seruyan pada Festival Budaya Isen Mulang Tahun 2027,” ujarnya.
Beragam perlombaan tradisional disuguhkan untuk menghidupkan kembali kekayaan budaya masyarakat Seruyan. Di antaranya Mangaruhi (Menggalau), Manjawet Uwei, Besei Kambe, Sepak Sawut atau Bola Api, Tari Pesisir, Tari Pedalaman, Manyipet, Balogo, Bagasing, dan Karungut.
Antusiasme peserta pun terbilang tinggi. Mangaruhi diikuti 29 pasangan putra dan 17 pasangan putri. Besei Kambe melibatkan 12 pasangan putra dan 9 pasangan putri, sedangkan Sepak Sawut diikuti 10 grup.
Tari Pesisir diikuti lima grup dan Tari Pedalaman enam grup. Sementara Manyipet diikuti 16 peserta putra dan 9 peserta putri. Balogo diikuti 25 peserta putra dan 14 peserta putri, Bagasing 31 peserta putra dan 19 peserta putri, serta Karungut masing-masing 8 grup putra dan 12 grup putri. Adapun Manjawet Uwei diikuti lima peserta. 
Sportivitas menjadi harga mati. Wakil Bupati meminta seluruh peserta bertanding secara jujur dan mengerahkan kemampuan terbaik. Festival budaya, kata dia, harus menjadi ruang untuk mengasah keterampilan, bukan tempat mencari kemenangan dengan cara-cara yang tidak sportif.
“Kepada seluruh peserta, kami mengharapkan dapat mengikuti semua perlombaan dengan sportif, tidak melakukan kecurangan dan dapat memaksimalkan keterampilan yang dimiliki,” pesannya.
Ketegasan serupa juga diarahkan kepada dewan juri dan wasit. Mereka diminta menjalankan tugas secara objektif, profesional, dan adil agar para pemenang benar-benar merupakan talenta terbaik yang layak membawa nama Seruyan ke tingkat provinsi.
“Harapan kami, seluruh dewan juri dan wasit dapat bertindak objektif dan adil, sehingga para pemenang yang nantinya diberangkatkan mengikuti Festival Budaya Isen Mulang Tahun 2027 dapat menorehkan prestasi yang luar biasa untuk Kabupaten Seruyan,” tegas H.Supian.
Wakil Bupati juga membakar semangat para peserta agar tidak mudah menyerah dalam menghadapi setiap pertandingan.
“Terus tebarkan semangat perjuangan dan pantang menyerah sebelum menang,” pesannya.
Festival Gawi Hatantiring 2026 diharapkan tidak berhenti sebagai agenda tahunan semata. Pemerintah Kabupaten Seruyan ingin kegiatan tersebut menjadi instrumen nyata untuk memperkuat identitas budaya, menumbuhkan kecintaan generasi muda terhadap warisan leluhur, sekaligus mencetak seniman dan budayawan potensial.
Dengan begitu, budaya lokal tidak hanya dipertontonkan di panggung festival, tetapi terus hidup, berkembang, dan menjadi kekuatan Seruyan untuk bersaing hingga tingkat provinsi maupun nasional.(*As)













