Example 728x250

Pemprov Kalteng Percepat PM-AAS untuk Tingkatkan Produktivitas dan Kesejahteraan Petani

MONITOR KALTENG, PALANGKA RAYA – Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng) menggelar Rapat Koordinasi Percepatan Pelaksanaan Pertanian Modern–Advanced Agriculture System (PM-AAS) di Aula Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Peternakan (DTPHP) Provinsi Kalteng, Selasa (21/7/2026).

Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya mempercepat penerapan sistem pertanian modern guna meningkatkan produktivitas sekaligus kesejahteraan petani.

Kepala Badan Perakitan dan Modernisasi Pertanian (BRMP), Agus Hasbianto, mengatakan konsep PM-AAS bukanlah hal yang sepenuhnya baru bagi petani di Kalimantan Tengah.

Menurutnya, sejumlah teknologi yang digunakan dalam sistem tersebut telah dikenal oleh petani, namun kini dikembangkan dengan berbagai penyempurnaan.

“PM-AAS sebenarnya merupakan penyempurnaan dari teknologi yang sudah ada. Misalnya penggunaan drum seeder, yang selama ini telah digunakan petani. Pada PM-AAS, alat tersebut dimodifikasi, terutama pada pengaturan jarak tanam sehingga hasilnya diharapkan lebih optimal,” ujarnya.

Ia menambahkan, petani di Kalimantan Tengah juga telah cukup familiar dengan penggunaan alat dan mesin pertanian modern, seperti traktor maupun drum seeder. Kondisi tersebut menjadi modal penting dalam penerapan PM-AAS secara lebih luas.

“Kami optimistis teknologi modern dalam PM-AAS dapat diterapkan di Kalimantan Tengah secara bertahap, meskipun saat ini cakupannya belum terlalu luas,” katanya.

Agus menjelaskan, salah satu kunci keberhasilan PM-AAS adalah penggunaan varietas padi unggul yang memiliki potensi hasil lebih tinggi dibandingkan varietas biasa. Menurutnya, sejumlah varietas unggul mampu menghasilkan lebih dari enam ton gabah per hektare, bahkan berpotensi mencapai sembilan ton.

Melalui penerapan teknologi budidaya yang tepat dan penggunaan benih unggul, PM-AAS ditargetkan mampu meningkatkan produktivitas hingga minimal 10 ton per hektare. Sementara untuk kondisi Kalimantan Tengah, ia berharap produktivitas lahan petani dapat meningkat hingga dua kali lipat dibandingkan kondisi saat ini.

“Jika sebelumnya hasil panen berkisar tiga sampai empat ton per hektare, maka melalui PM-AAS diharapkan bisa meningkat menjadi enam hingga delapan ton. Peningkatan produktivitas ini tentu akan berdampak langsung pada peningkatan pendapatan dan kesejahteraan petani,” jelasnya.

Selain peningkatan produktivitas, Agus menilai pemerintah juga telah menyiapkan berbagai kebijakan untuk mendukung kesejahteraan petani. Salah satunya melalui penurunan harga pupuk sehingga lebih mudah dijangkau, serta penetapan harga pembelian gabah yang lebih baik.

Ia menyebutkan harga pembelian gabah saat ini telah mencapai Rp6.500 per kilogram, bahkan di beberapa daerah seperti Kabupaten Kapuas telah menembus lebih dari Rp7.000 per kilogram.

“Dengan harga gabah yang lebih baik dan produktivitas mencapai delapan hingga sepuluh ton per hektare, pendapatan petani berpotensi meningkat dua hingga tiga kali lipat dibandingkan sebelumnya. Karena itu kami yakin PM-AAS dapat memberikan dampak nyata terhadap kesejahteraan petani apabila diterapkan sesuai standar budidaya yang telah ditetapkan,” katanya.

Sementara itu, Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Peternakan Kalteng, Rendy Lesmana, mengatakan pemerintah terus memperkuat dukungan terhadap sektor pertanian, mulai dari penyediaan pupuk bersubsidi, kepastian harga gabah, hingga bantuan alat dan mesin pertanian modern.

Menurutnya, penggunaan mekanisasi pertanian diharapkan mampu meningkatkan efisiensi biaya produksi sekaligus mengurangi kebutuhan tenaga kerja di lapangan.

“Melalui penggunaan alat pertanian modern, proses budidaya menjadi lebih efektif dan efisien sehingga biaya produksi petani dapat ditekan,” ujarnya.

Rendy menambahkan, salah satu tantangan dalam pelaksanaan PM-AAS adalah pengelolaan jaringan irigasi, khususnya pada kawasan rawa. Pengaturan tata air dinilai menjadi faktor penting dalam mendukung keberhasilan program yang pada tahun ini ditargetkan mencakup lahan seluas sekitar 14.017 hektare.

Menurutnya, keberhasilan PM-AAS tidak hanya bergantung pada penggunaan teknologi, tetapi juga pada pelaksanaan seluruh tahapan budidaya secara terpadu, mulai dari pengolahan lahan, penanaman, pemeliharaan hingga proses panen.

“Harapan kami, melalui penerapan pertanian modern ini produktivitas meningkat dan pada akhirnya kesejahteraan petani Kalimantan Tengah juga semakin baik,” pungkasnya. (red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You cannot copy content of this page