Example 728x250

Kompolnas: Tiga Polisi Diduga Disiksa Bandar Narkoba Sebelum Tewas di Sungai Katingan

MONITOR KALTENG, PALANGKA RAYA/ – Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas) RI menegaskan pengungkapan kasus tewasnya tiga anggota Satuan Reserse Narkoba (Satresnarkoba) Polres Katingan harus dilakukan secara maksimal dan menyeluruh. Hal itu disampaikan dalam konferensi pers bersama Kepolisian Daerah (Polda) Kalimantan Tengah di Mapolda Kalteng, Selasa (7/7/2026).

Konferensi pers digelar usai Kompolnas melakukan peninjauan langsung ke lokasi penggerebekan dugaan bandar narkotika di Desa Tumbang Kalamei, Kabupaten Katingan, yang berujung pada gugurnya tiga personel Polri saat menjalankan tugas.

Kapolda Kalimantan Tengah menjelaskan, Kompolnas telah melakukan pengecekan langsung ke tempat kejadian perkara (TKP), menggali informasi dari berbagai pihak, serta menemui keluarga ketiga anggota Polri yang gugur.

“Kompolnas telah melakukan pengecekan langsung di lapangan, mendalami berbagai informasi, serta menemui keluarga anggota yang gugur. Hasilnya akan disampaikan langsung kepada rekan-rekan media,” ujar Kapolda.

Komisioner Kompolnas, Choirul Anam, mengatakan pihaknya datang ke Kalimantan Tengah untuk memastikan secara langsung kronologi dan perkembangan penanganan perkara. Selain berkoordinasi dengan penyidik Ditreskrimum Polda Kalteng, Kompolnas juga meninjau lima titik lokasi kejadian, berdialog dengan warga, kepala desa, serta tokoh masyarakat.

Menurut Anam, berdasarkan hasil pendalaman sementara, peristiwa tersebut bermula ketika anggota Satresnarkoba telah berhasil mengamankan target operasi dan memperkenalkan diri sebagai anggota kepolisian dengan menunjukkan identitas serta surat tugas.

Namun situasi berubah ketika muncul teriakan yang menyebut petugas sebagai perampok. Teriakan tersebut memicu sejumlah anggota keluarga terduga pelaku mendatangi lokasi sehingga terjadi perlawanan terhadap petugas.

“Anggota sebenarnya sudah memperkenalkan diri sebagai polisi dan menunjukkan surat tugas. Namun muncul teriakan bahwa yang datang adalah perampok sehingga memicu kedatangan anggota keluarga dan terjadi peristiwa yang tidak kita inginkan,” kata Anam.

Ia menjelaskan, setelah beberapa anggota mengalami luka-luka, petugas memutuskan mundur dengan tujuan menghindari jatuhnya korban lebih banyak, baik dari pihak kepolisian maupun masyarakat sekitar.

“Keputusan mundur diambil agar tidak semakin banyak korban. Namun saat itu justru terjadi pengejaran terhadap petugas,” ujarnya.

Kompolnas juga mengungkapkan adanya dugaan bahwa ketiga anggota Polri mengalami penyiksaan sebelum ditemukan meninggal dunia. Dugaan tersebut, kata Anam, didasarkan pada hasil peninjauan lokasi, informasi autopsi, serta analisis awal terhadap kondisi korban.

“Kami menduga para korban mengalami penyiksaan. Dugaan kuat sementara, mereka meninggal terlebih dahulu di darat sebelum kemudian ditemukan di sungai. Namun seluruh dugaan tersebut tetap harus dibuktikan melalui proses penyidikan secara ilmiah dan pembuktian di pengadilan,” jelasnya.

Anam menambahkan, hasil autopsi menunjukkan korban mengalami sejumlah luka yang kini sedang didalami penyidik menggunakan pendekatan forensik.

Ia juga menyebut salah satu korban ditemukan mengalami luka tembak. Meski demikian, seluruh temuan tersebut masih menjadi bagian dari proses pembuktian hukum.

Dalam kesempatan itu, Kompolnas meminta penyidik mengusut tuntas seluruh pihak yang diduga terlibat, baik pelaku langsung maupun pihak lain yang memiliki peran dalam peristiwa tersebut.

“Kami meminta penegakan hukum dilakukan semaksimal mungkin dengan penerapan pasal yang paling tepat terhadap seluruh pihak yang bertanggung jawab,” tegas Anam.

Kompolnas juga memastikan penyidik telah menguasai sejumlah barang bukti dan informasi penting yang belum dapat dipublikasikan karena masih menjadi bagian dari kepentingan penyidikan.

Selain itu, Kompolnas mengingatkan agar tragedi tersebut tidak mengendurkan komitmen aparat dalam memberantas peredaran narkotika.

“Pemberantasan narkoba tidak boleh berhenti. Ini merupakan program prioritas nasional sehingga harus terus berjalan meski terjadi peristiwa yang sangat tragis ini,” katanya.

Kompolnas juga mengaku telah bertemu dengan Bupati Katingan beserta jajaran pemerintah daerah. Dalam pertemuan tersebut, pemerintah daerah menyatakan komitmennya untuk memperkuat sinergi dengan kepolisian dalam upaya pemberantasan narkotika.

Menurut Anam, kolaborasi antara kepolisian, pemerintah daerah, tokoh masyarakat, dan seluruh elemen masyarakat menjadi kunci dalam memutus mata rantai peredaran narkoba di daerah.

“Semoga peristiwa ini menjadi momentum memperkuat sinergi seluruh pihak dalam memerangi narkoba. Gugurnya tiga anggota Polri harus menjadi pengingat bahwa pemberantasan narkotika membutuhkan dukungan semua elemen bangsa,” pungkasnya.

(Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You cannot copy content of this page