Example 728x250

Palangka Raya Pertahankan Predikat Juara Umum FBIM 2025: Simbol Komitmen Budaya dan Penggerak Ekonomi Lokal

Wali Kota Palangka Raya, Fairid Naparin, mengapresiasi kerja keras para kontingen dan seniman daerahnya. “Ini bukan sekadar kemenangan kompetisi, tetapi cerminan konsistensi dan komitmen dalam menjaga serta melestarikan warisan budaya lokal. Anak-anak muda kita membuktikan bahwa seni dan adat bisa menjadi kebanggaan sekaligus masa depan,” ujarnya usai penutupan.

PALANGKA RAYA – Monitorkalteng.co.id – Kota Palangka Raya kembali mengukir prestasi sebagai juara umum dalam ajang Festival Budaya Isen Mulang (FBIM) 2025, yang digelar pada 18–23 Mei di ibu kota Provinsi Kalimantan Tengah. Kemenangan ini diumumkan secara resmi dalam malam penutupan yang berlangsung semarak pada Jumat malam (23/5), menandai keberhasilan Palangka Raya mempertahankan dominasinya dalam pesta budaya tahunan terbesar di Bumi Tambun Bungai.

Dari 14 kabupaten/kota yang ambil bagian, Palangka Raya tampil mencolok dengan torehan prestasi di berbagai cabang perlombaan, mulai dari seni pertunjukan tradisional, permainan rakyat, hingga parade budaya. Tahun ini, sebanyak 1.936 peserta ikut ambil bagian, menciptakan atmosfer kompetisi sekaligus perayaan keragaman budaya yang kental.

Wali Kota Palangka Raya, Fairid Naparin, mengapresiasi kerja keras para kontingen dan seniman daerahnya. “Ini bukan sekadar kemenangan kompetisi, tetapi cerminan konsistensi dan komitmen dalam menjaga serta melestarikan warisan budaya lokal. Anak-anak muda kita membuktikan bahwa seni dan adat bisa menjadi kebanggaan sekaligus masa depan,” ujarnya usai penutupan.

Kemenangan ini bukan hasil kebetulan. Palangka Raya sebelumnya telah menjalani proses seleksi ketat melalui Festival Palangka Raya 2025. Kecamatan Pahandut yang menjadi ujung tombak kontingen kota tampil gemilang dengan mengoleksi 8 gelar juara satu, 8 juara dua, dan 7 juara tiga di tingkat kota. Jejak prestasi ini berlanjut ke pentas provinsi, memperlihatkan pembinaan budaya yang dilakukan sejak level komunitas.

“Kami menargetkan juara umum sejak awal. Hasil ini adalah buah kerja kolektif antara pemerintah, seniman, dan masyarakat. FBIM bukan hanya panggung pertunjukan, tapi tempat kita memperkuat identitas,” imbuh Fairid.

FBIM tahun ini tidak hanya menjadi arena pertarungan kreativitas, tetapi juga memberikan dampak ekonomi yang signifikan. Hotel-hotel penuh oleh tamu dari luar kota, jasa penyewaan kostum kebanjiran pesanan, dan pelaku UMKM lokal mengalami lonjakan penjualan.

“Selama festival, omzet kami meningkat dua sampai tiga kali lipat. Banyak tamu mencari suvenir khas, makanan tradisional, hingga aksesoris Dayak,” kata Yuni, pelaku UMKM asal Jekan Raya.

Keberhasilan Palangka Raya dalam FBIM 2025 memperkuat posisinya sebagai barometer budaya Kalimantan Tengah. Tidak hanya mencatat capaian dalam pembangunan fisik, kota ini kini juga diakui sebagai pusat pembinaan seni dan pelestarian adat.

“Palangka Raya telah menjelma menjadi etalase budaya. Capaian ini penting untuk memperkuat identitas kita di tengah arus modernisasi,” ungkap seorang pengamat budaya lokal, Dr. Aswin Tumiwa.

Dengan kesuksesan beruntun ini, tantangan ke depan adalah mempertahankan antusiasme generasi muda terhadap tradisi, sembari membuka ruang-ruang kreatif untuk regenerasi. FBIM bukan sekadar festival, melainkan investasi budaya jangka panjang bagi Kalimantan Tengah. (Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You cannot copy content of this page