MONITOR KALTENG, SERUYAN – Kecelakaan udara terjadi saat operasi pemadaman kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah. Helikopter Mi-17 milik Penerbad TNI Angkatan Darat (TNI AD) dilaporkan jatuh di perairan pesisir Desa Pematang Limau, Kecamatan Seruyan Hilir, kawasan Resor Sungai Perlu, Taman Nasional Tanjung Puting, Minggu (4/10/2026).
Helikopter tersebut mengalami kecelakaan saat menjalankan misi pemadaman Karhutla menggunakan metode water bombing. Insiden ini langsung memicu operasi evakuasi dan pencarian terhadap seluruh kru yang berada di dalam pesawat.
Berdasarkan laporan sementara petugas di lapangan, helikopter milik Kementerian Kehutanan berkode PK-DAP yang saat itu juga menjalankan operasi water bombing di wilayah Pematang Limau menerima informasi dari helikopter Bell 412 Penerbad mengenai jatuhnya Mi-17 di perairan pesisir.
Mendapat informasi tersebut, PK-DAP langsung bergerak menuju titik kecelakaan untuk membantu proses penyelamatan. Saat ditemukan, posisi helikopter Mi-17 dilaporkan sudah dalam keadaan terbalik di perairan.
Petugas kemudian melakukan evakuasi terhadap empat orang kru menggunakan Bambi Bucket atau wadah air yang terpasang pada helikopter. Keempat kru tersebut berhasil dipindahkan dari laut menuju daratan pantai.
Setelah proses evakuasi awal, helikopter PK-DAP terpaksa kembali ke pangkalan karena persediaan bahan bakar mulai menipis. Awak PK-DAP kemudian melakukan komunikasi dengan petugas darat di Kuala Pembuang untuk mengoordinasikan penanganan lebih lanjut.
Selanjutnya, empat kru yang berhasil dievakuasi dijemput menggunakan helikopter Bell 412 Penerbad dan diterbangkan kembali ke Bandara Kuala Pembuang. Mereka kemudian dibawa ke fasilitas pelayanan kesehatan untuk mendapatkan penanganan medis.
Namun, proses evakuasi belum sepenuhnya selesai. Helikopter PK-DAP kembali diterbangkan untuk melanjutkan misi pencarian dan evakuasi terhadap kru Mi-17 lainnya yang masih berada di sekitar lokasi kecelakaan.
Proses penanganan kecelakaan tersebut menghadapi sejumlah kendala di lapangan. Salah satunya adalah tidak tersedianya jaringan komunikasi atau sinyal di sekitar lokasi jatuhnya helikopter dan area operasi water bombing.
Kondisi tersebut menyebabkan penyampaian informasi dari lokasi kejadian menjadi terbatas sehingga perkembangan proses pencarian masih menunggu laporan berkala dari petugas di lapangan.
Hingga laporan sementara ini diterima, empat kru telah berhasil dievakuasi dan mendapatkan penanganan di fasilitas kesehatan. Sementara itu, proses pencarian terhadap kru lainnya masih berlangsung.
Penyebab pasti kecelakaan helikopter Mi-17 tersebut juga belum diketahui dan masih menunggu keterangan resmi dari pihak berwenang.
Insiden ini menjadi perhatian serius dalam pelaksanaan operasi penanggulangan Karhutla di Kabupaten Seruyan, mengingat helikopter tersebut tengah menjalankan misi pemadaman melalui jalur udara di tengah upaya pengendalian kebakaran di wilayah tersebut.(*As)













