Monitorkalteng.co.id – Palangka Raya, 19 April 2025 — Kota Palangka Raya tengah menghadapi tantangan ekonomi serius dengan tercatatnya deflasi sebesar 0,35 persen. Angka yang sekilas menunjukkan penurunan harga ini, menurut Wali Kota Fairid Naparin, justru mengungkapkan kondisi lain yang lebih mengkhawatirkan: menurunnya daya beli masyarakat.
Hal tersebut disampaikan Fairid dalam sambutannya saat acara Silaturahmi dan Halal Bihalal Kerukunan Warga Hulu Sungai Selatan (KW-HSS) Palangka Raya, yang juga dihadiri oleh Bupati dan Wakil Bupati Hulu Sungai Selatan, Sabtu (19/4). Ia menekankan bahwa deflasi ini bukan sekadar fenomena ekonomi biasa, melainkan refleksi langsung dari lemahnya konsumsi masyarakat di tengah stagnasi pendapatan.
“Deflasi ini memang menunjukkan harga menurun, tapi di sisi lain, hal ini juga menunjukkan kemampuan daya beli masyarakat yang ikut berkurang,” ucap Fairid. Ia mengaku prihatin, terutama melihat dampaknya terhadap kelompok masyarakat yang menggantungkan hidup dari sektor perdagangan.
Kondisi ini diperparah dengan lesunya aktivitas pasar. Fairid secara khusus menyampaikan permohonan maaf kepada warga Banjar, yang dikenal sebagai komunitas pedagang besar di Palangka Raya. Ia menyebut bahwa penurunan jumlah pembeli dan turunnya transaksi menjadi indikator bahwa konsumsi rumah tangga masyarakat mulai melemah.
“Mohon maaf, terutama bagi warga Banjar yang banyak berprofesi sebagai pedagang di Palangka Raya, karena saat ini kondisi pasar agak sepi. Kami menyadari dampaknya sangat terasa, khususnya bagi para pedagang,” tambahnya.
Sebagai respons atas situasi ini, Pemerintah Kota Palangka Raya menyiapkan sejumlah program bantuan sosial, termasuk Bantuan Langsung Tunai (BLT) non Data Terpadu Kesejahteraan Sosial Ekstrem Nasional (DT-SEN) serta bantuan modal usaha untuk pelaku UMKM sebesar Rp2 juta per pelaku usaha. Program ini menjadi bagian dari 100 hari kerja Fairid bersama Wakil Wali Kota Achmad Zaini.
“Kami akan berupaya semaksimal mungkin untuk membantu,” tegas Fairid, sembari menambahkan bahwa bantuan tersebut akan segera disalurkan dalam waktu dekat.
Sementara itu, para pelaku usaha kecil dan menengah berharap realisasi bantuan tersebut bisa tepat sasaran dan cepat diterima, mengingat kondisi usaha mereka yang kian tertekan. Salah satu pedagang di Pasar Besar Palangka Raya mengaku omzetnya turun hampir 40 persen dalam dua bulan terakhir.
Situasi ini menjadi peringatan dini bagi pemerintah daerah untuk tidak hanya fokus pada stabilitas harga, tapi juga pada kesejahteraan masyarakat secara keseluruhan, terutama di sektor informal yang rentan terpukul oleh fluktuasi ekonomi. Pemerintah pun diharapkan mampu menggelar strategi pemulihan yang menyentuh akar persoalan: menumbuhkan kembali kepercayaan dan kemampuan konsumsi masyarakat. ( Aj)













