MONITOR KALTENG,PALANGKA RAYA- Genderang perang melawan mafia narkoba di kawasan Puntun ditabuh lebih keras. Aksi pengecut orang tak dikenal yang mencabut patok pembangunan Posko Terpadu Antinarkoba bukannya menyiutkan nyali, justru memicu amarah dan solidaritas masyarakat Dayak untuk memberangus para perusak generasi bangsa hingga ke akarnya.
Tindakan provokatif yang diduga dilakukan oleh kaki tangan mafia narkoba ini terjadi hanya beberapa hari setelah pemasangan patok oleh Gerakan Dayak Anti Narkoba (GDAN) dan aparat gabungan pada Rabu (22/4/2026). Bukannya gentar, GDAN bersama seluruh elemen masyarakat di Tanah Dayak kini bersiaga penuh untuk meratakan bisnis haram tersebut.
Ketua GDAN, Ririen Binti, dengan nada tinggi memperingatkan para mafia bahwa tindakan sabotase tersebut adalah bukti kepanikan mereka.
“Pencabutan patok ini adalah sinyal pengecut bahwa mereka sedang sekarat dan ketakutan! Jika mereka pikir, pencabutan beberapa potong kayu bisa menghentikan kami, mereka salah besar. Satu patok kalian cabut, seribu perlawanan masyarakat Dayak akan bangkit menerjang! Kami tidak akan membiarkan sejengkal pun tanah kami dijadikan sarang racun,” tegas Ririen Binti
Aksi sabotase ini menjadi alarm keras bagi aparat penegak hukum bahwa mafia narkoba di Puntun masih berani memamerkan “taring” kotor mereka. Namun, nyali mereka dipastikan akan berbenturan dengan instruksi baja Gubernur Kalimantan Tengah, Agustiar Sabran: “Dirikan secepatnya posko terpadu antinarkoba di Puntun!”
Gubernur Kalteng, yang juga menjabat Ketua Umum Dewan Adat Dayak (DAD), sebelumnya telah menyatakan perang terbuka demi menyelamatkan martabat dan masa depan generasi Dayak di Istana Isen Mulang.
“Narkoba adalah penjajah modern yang merusak tatanan hidup kita. Tidak ada kata kompromi! Mata rantai peredaran haram ini harus diputus sekarang juga. Ini soal menyelamatkan masa depan bangsa,” tegas Agustiar.
Sementara itu, Sekjen GDAN, Dr. Ari Yunus Hendrawan menambahkan, tindakan mencabut patok adalah penghinaan langsung terhadap harga diri masyarakat Dayak yang ingin membersihkan nama baik kawasan Puntun dari stigma negatif.
“Kami tidak akan mundur selangkah pun! Jika mereka berani mencabut patok, kami akan balas dengan membangun pondasi beton yang tak tergoyahkan. Ini bukan sekadar urusan bangunan, ini adalah soal harga diri dan kehormatan masyarakat Dayak yang tidak bisa ditawar!” pungkasnya.
Menutup pernyataannya, Ari Yunus, yang juga seorang praktisi hukum menegaskan, pembangunan fisik posko akan segera dimulai dalam beberapa hari ke depan. Ia mendesak Kepolisian untuk mengawal ketat proses tersebut sebagai bukti nyata bahwa negara tidak boleh dan tidak akan pernah kalah oleh gertakan mafia narkoba.
(Redaksi)













