MONITOR KALTENG, KUALA PEMBUANG, — Kemarau panjang yang melanda Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, mulai memicu krisis air bersih di sejumlah wilayah. Kondisi ini menjadi perhatian serius DPRD Kabupaten Seruyan yang mendesak perusahaan swasta di sekitar kawasan terdampak agar segera turun tangan membantu masyarakat.
Desakan tersebut disampaikan Anggota DPRD Kabupaten Seruyan dari Komisi C, Stefani Berliana Magdalena, menyusul kesulitan warga memenuhi kebutuhan air bersih untuk aktivitas sehari-hari. Salah satu wilayah yang terdampak cukup parah adalah Kelurahan Rantau Pulut, Kecamatan Seruyan Tengah, yang masuk wilayah Daerah Pemilihan (Dapil) III.
Di wilayah tersebut, sebagian besar sumur warga dilaporkan mengering akibat kemarau. Masyarakat pun terpaksa menggunakan mesin pompa air atau alkon untuk menyedot air dari sumber bawah tanah, kemudian menyalurkannya ke permukiman.
Kondisi ini memperlihatkan betapa pentingnya ketersediaan air bersih bagi masyarakat, terutama ketika sumber air yang selama ini diandalkan warga tidak lagi mampu memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Stefani menegaskan, perusahaan swasta yang beroperasi di sekitar wilayah terdampak, khususnya yang memiliki desa binaan, perlu menunjukkan kepedulian nyata terhadap kesulitan masyarakat.
Menurutnya, bantuan air bersih melalui program tanggung jawab sosial perusahaan atau Corporate Social Responsibility (CSR) dapat menjadi langkah konkret untuk meringankan beban warga selama kemarau berlangsung.
“Di Seruyan Tengah, terkhusus di Rantau Pulut, warga mengambil air dengan menyedot pakai alkon dari bawah, lalu didistribusikan ke rumah-rumah. Mudah-mudahan kemarau ini cepat selesai, supaya air bersih di sumur-sumur warga kembali normal dan kebutuhan untuk masak serta mandi bisa aman,” ujar Stefani saat diwawancarai awak media Rabu,(7/10/2026)
Ia berharap perusahaan tidak sekadar menjalankan kegiatan operasional, tetapi juga peka terhadap kondisi sosial masyarakat di sekitar wilayah usahanya.
“Mudah-mudahan perusahaan ada inisiatif untuk mendistribusikan air bersih, paling tidak di area yang masuk dalam desa binaan mereka,” tambahnya.
Desakan tersebut menempatkan bantuan air bersih sebagai kebutuhan mendesak yang perlu segera ditangani. Sebab, air merupakan kebutuhan dasar yang tidak dapat ditunda, baik untuk memasak, mandi, maupun menjaga kebersihan lingkungan.
Selain persoalan air bersih, Stefani turut menyoroti dampak kemarau terhadap kesehatan masyarakat dan aktivitas pendidikan.
Cuaca kering yang berlangsung berkepanjangan berpotensi meningkatkan paparan debu, terutama bagi masyarakat yang setiap hari beraktivitas di luar ruangan. Anak-anak sekolah dan para guru menjadi kelompok yang perlu mendapat perhatian agar kegiatan belajar mengajar tetap berlangsung dengan aman.
Karena itu, ia berharap perusahaan juga mempertimbangkan penyaluran bantuan kesehatan berupa masker, vitamin, dan perlengkapan pendukung lainnya bagi masyarakat di sekitar wilayah operasional perusahaan.
“Kemudian mungkin dari perusahaan agar bisa mendistribusikan masker, vitamin, dan sejenisnya untuk anak-anak sekolah atau guru-guru yang memang berada di area perusahaan,” jelasnya.
Bagi Stefani, kepedulian perusahaan tidak harus terbatas pada bantuan dalam bentuk tertentu. Dukungan yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat di lapangan justru menjadi hal penting agar manfaat program CSR benar-benar dirasakan warga.
Krisis air bersih di Rantau Pulut menjadi pengingat bahwa kemarau panjang bukan sekadar persoalan cuaca, tetapi juga menyangkut pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat.
Ketika sumur-sumur warga mengering dan distribusi air harus mengandalkan pompa, masyarakat membutuhkan dukungan konkret agar aktivitas sehari-hari tidak terus terganggu.
DPRD pun berharap perusahaan yang beroperasi di sekitar wilayah terdampak segera mengambil inisiatif, terutama melalui pendistribusian air bersih dan bantuan kesehatan sesuai kebutuhan warga.
Di tengah kondisi tersebut, masyarakat kini berharap kemarau segera berakhir agar sumber air kembali normal. Namun, sembari menunggu perubahan cuaca, langkah cepat dari berbagai pihak, termasuk pemerintah daerah dan perusahaan swasta, dibutuhkan untuk membantu warga melewati masa sulit ini.
Air bersih adalah kebutuhan dasar masyarakat. Karena itu, kepedulian sosial perusahaan di tengah krisis bukan sekadar bentuk tanggung jawab sosial, melainkan wujud nyata keberpihakan terhadap masyarakat yang hidup berdampingan dengan aktivitas usaha mereka.(*As)













