Monitorkalteng.co.id – Palangka Raya – Di tengah riuhnya panggung politik nasional yang kian keras bersuara, seorang tokoh pers dari Kalimantan Tengah kembali menyuarakan hal mendasar yang mulai dilupakan banyak insan media: kode etik jurnalistik.
Hartany Soekarno, 65 tahun, adalah nama yang tak asing di dunia jurnalistik Kalimantan Tengah. Dengan pengalaman lebih dari empat dekade di berbagai media seperti TVRI, TPI, Lativi, hingga tvOne, ia menyampaikan pesan yang kuat dan mendalam saat peringatan Hari Kebebasan Pers Sedunia: “Kiblat jurnalis adalah Kode Etik Jurnalistik (KEJ).”
Menurut Hartany, dalam pusaran konflik politik yang sering kali hanya memperlihatkan tarik menarik kepentingan elit, rakyat justru menjadi pihak yang paling terdampak. “Etika, sosial, hingga ekonomi rakyat terganggu akibat konflik itu,” ujarnya. Dalam kondisi seperti itu, katanya, lembaga pers menjadi garda depan dalam menyuarakan keluhan dan harapan rakyat.
“Banyak lembaga formal belum mampu sepenuhnya menampung aspirasi rakyat. Pers adalah jalan tercepat, termudah, dan termurah bagi rakyat untuk bersuara,” katanya lugas.
Hartany juga menyoroti bagaimana teknologi kini telah menjadi pedang bermata dua dalam dunia pers. Kecepatan penyebaran informasi tidak bisa lagi dibendung. Dalam hitungan menit, satu peristiwa bisa tersebar ke penjuru negeri. Namun ia menekankan, kecepatan tanpa etika justru bisa menjadi bumerang.
“Jurnalis tidak boleh larut dalam arus teknologi tanpa kendali. Kita harus berdamai dengan teknologi, tapi tidak pernah boleh lepas dari kompas kita: KEJ,” katanya, merujuk pada Kode Etik Jurnalistik.
Bagi Hartany, jurnalis bukan sekadar pencatat fakta, melainkan pemungut nurani rakyat. Ia mengajak seluruh insan pers untuk menulis dengan hati, menggunakan keberanian, kecerdasan, welas asih, dan rasa tanggung jawab.
“Berita yang baik bukan hanya benar dan akurat, tapi juga mengedukasi, menghibur, dan membangun kesadaran bersama,” pesannya.
Kini, Hartany memang tidak lagi tampil. Namun semangatnya tetap menyala. Sebagai pembina IJTI Kalimantan Tengah, ia masih aktif membimbing generasi muda jurnalis, menulis opini di berbagai media, dan menjadi pengingat akan nilai-nilai luhur profesi ini.
“Selamat memperingati Hari Kebebasan Pers Sedunia. Mari kita jaga marwah profesi ini. Salam jurnalis untuk keadilan,” tutupnya. ( Red)













