Example 728x250

IPMK Palangka Raya Sambut Mahasiswa Baru Kotim: Jangan Jadi Penonton di Negeri Sendiri

Keterangan foto: Asisten Intelijen Kejati Kalteng Hendri Hanafi dan Ketua Umum IPMK Palangka Raya Muhammad Sya’ban berfoto bersama mahasiswa Kotim seusai membuka Makrab di Anjungan Betang Kotim, Palangka Raya, Sabtu malam, 3 Oktober 2026.

MONITOR KALTENG, PALANGKA RAYA — Ikatan Pelajar Mahasiswa Kotawaringin Timur (IPMK) Palangka Raya menyambut mahasiswa baru asal Kotawaringin Timur (Kotim) melalui Malam Keakraban (Makrab) di Anjungan Betang Kotim, Palangka Raya, Sabtu malam, 3 Oktober 2026.

Kegiatan ini bukan sekadar ajang perkenalan. IPMK mendorong mahasiswa asal Kotim yang menempuh pendidikan di Palangka Raya agar membangun solidaritas sekaligus memiliki kepedulian terhadap persoalan daerah asalnya.

Ketua Umum IPMK Palangka Raya, Muhammad Sya’ban, mengatakan mahasiswa baru yang datang ke Palangka Raya tidak hanya memasuki lingkungan akademik baru, tetapi juga menjadi bagian dari keluarga besar mahasiswa Kotim di perantauan.

“Selamat datang di lingkungan baru. Dan yang paling penting, selamat datang di keluarga besar IPMK Palangka Raya,” kata Sya’ban.

Menurut dia, IPMK harus menjadi ruang bersama bagi mahasiswa untuk berhimpun, berdiskusi, membangun jaringan, sekaligus saling membantu selama menjalani pendidikan jauh dari kampung halaman.

“Kita semua datang dari daerah yang sama, Kotim. Karena itu, jangan sampai ketika berada di Palangka Raya kita berjalan sendiri-sendiri. Kita harus saling mengenal, saling membantu, dan saling menguatkan,” ujarnya.

Sya’ban juga menekankan pentingnya kepedulian mahasiswa terhadap perkembangan Kotim. Ia meminta generasi muda tidak bersikap apatis terhadap berbagai persoalan yang terjadi di daerah.

“Kita harus punya kepedulian terhadap Kotawaringin Timur. Kita harus tahu apa yang sedang terjadi dan bagaimana mahasiswa bisa mengambil bagian,” tegasnya.

Pesan lebih keras disampaikan Asisten Intelijen Kejaksaan Tinggi Kalimantan Tengah, Hendri Hanafi, yang membuka kegiatan tersebut.

Hendri mengatakan Kotim memiliki potensi besar sekaligus terus melahirkan generasi yang mampu berkiprah di berbagai bidang.

“Kotim terus melahirkan orang-orang hebat, tangguh, dan luar biasa. Saya belajar dari salah satu atasan saya yang beberapa waktu lalu menjadi Kajati, Pak Agus Sahat. Beliau adalah orang Sampit,” kata Hendri.

Menurut Hendri, kekayaan sumber daya Kotim, mulai dari sektor pertambangan hingga perkebunan kelapa sawit, merupakan modal besar bagi pembangunan daerah. Namun, potensi tersebut membutuhkan sumber daya manusia yang mampu mengelolanya secara bertanggung jawab.

Karena itu, mahasiswa Kotim di Palangka Raya diminta tidak sekadar mengejar gelar akademik. Mereka harus mempersiapkan diri menjadi calon pemimpin yang mampu memberi kontribusi bagi Kotim, Palangka Raya, maupun Kalimantan Tengah.

“Adik-adik semua harus menjadi motor penggerak, orang-orang yang mampu menjadi pemimpin-pemimpin terbaik dan memanfaatkan kekayaan Kotim untuk kemajuan dan kesejahteraan,” tegasnya.

Hendri juga mengingatkan mahasiswa agar tidak menyia-nyiakan kesempatan memperoleh pendidikan.

Menurutnya, kesempatan mengenyam pendidikan merupakan modal penting untuk menentukan masa depan.

“Kalau kesempatan yang Tuhan berikan ini tidak mampu dimanfaatkan dan tidak mau mempersiapkan diri, maka siap-siap menjadi penonton di negeri sendiri,” pungkasnya.

Makrab IPMK Palangka Raya berlangsung selama dua hari, 3–4 Oktober 2026. Kegiatan diisi dengan berbagai agenda, mulai dari sharing pengalaman perkuliahan, pengenalan daerah Kotim, hingga sejarah perjalanan IPMK Palangka Raya.

Para peserta juga menginap di Anjungan Betang Kotim. Sejumlah permainan dan hadiah disiapkan panitia untuk membangun keakraban serta memperkuat kebersamaan mahasiswa baru.

Kegiatan tersebut turut dihadiri Ketua KPID Kalteng Sesa Mareki, alumni IPMK Palangka Raya Mulia Gumi, pengurus IPMK Palangka Raya periode 2025–2026, serta mahasiswa baru asal Kotim.

Bagi IPMK, pertemuan tersebut menjadi momentum memperkuat jaringan mahasiswa Kotim di perantauan sekaligus menanamkan kesadaran bahwa status sebagai mahasiswa bukan alasan untuk berjarak dari persoalan daerah asal.

(Redaksi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You cannot copy content of this page