MONITOR KALTENG, PALANGKA RAYA – Wakil Ketua Komisi II DPRD Kalimantan Tengah (Kalteng), Bambang Irawan, menyatakan dukungan penuh terhadap implementasi program Satu Rumah Satu Sarjana yang diproyeksikan menjadi pilar penting dalam menyukseskan program cetak sawah di Kalimantan Tengah.
Program yang merupakan inisiatif Pemerintah Pusat tersebut dinilai semakin solid berkat sinergi dengan gagasan strategis Gubernur Kalimantan Tengah, Agustiar Sabran. Kolaborasi kebijakan pusat dan daerah ini disebut Bambang sebagai terobosan besar dalam membangun kedaulatan pangan di Bumi Tambun Bungai.
“Sehingga program ini merupakan gebrakan yang bagus dan saling melengkapi, sehingga Komisi II DPRD Kalimantan Tengah mendukung hal itu,” ucap Bambang Irawan, Selasa (3/2/2026).
Politisi PDI Perjuangan itu menilai, tantangan utama yang dihadapi Kalimantan Tengah saat ini bukan semata pada ketersediaan lahan, melainkan pada keterbatasan Sumber Daya Manusia (SDM) yang mumpuni untuk mengelola program cetak sawah secara masif.
Kondisi tersebut diperparah dengan rendahnya minat generasi muda untuk terjun ke sektor pertanian, meski pemerintah pusat telah menggulirkan berbagai program, termasuk Petani Milenial.
“Oleh karena itu, fokus kita itu harus kepada anak muda, sehingga bagaimana caranya supaya anak muda tersebut berorientasi di bidang pertanian dan hal ini perlu menjadi perhatian,” jelasnya.
Melalui program Satu Rumah Satu Sarjana, Bambang berharap akan lahir intelektual-intelektual muda dari setiap keluarga yang mampu membawa perspektif baru dalam dunia agribisnis dan pertanian modern.
Ia juga mengungkapkan bahwa saat ini Dinas Pertanian di berbagai kabupaten di Kalimantan Tengah telah mulai bergerak membentuk Brigade Pangan sebagai turunan dari program pusat. Brigade ini ditugaskan mengelola lahan pertanian hingga ratusan hektare dengan dukungan mekanisasi dan teknologi modern.
Bambang menekankan pentingnya mengubah stigma lama yang melekat pada sektor pertanian sebagai pekerjaan tradisional yang identik dengan kerja fisik berat. Menurutnya, pertanian saat ini telah bertransformasi menjadi sektor berbasis teknologi tinggi dengan dukungan penuh dari pemerintah.
“Oleh karena itu, kita jangan berorientasi bahwa kerja petani itu mencangkul, sebenarnya hal itu tidak, karena saat ini teknologi sudah ada terus ada support dari pemerintah pusat, berupa cetak sawah juga sudah ada, dan alat pendukung untuk menanam juga sudah ada,” ujarnya.
Ia menegaskan, kebutuhan mendesak Kalimantan Tengah saat ini bukanlah tenaga kerja kasar, melainkan operator teknologi pertanian dan manajer lahan yang memiliki kapasitas intelektual dan kemampuan manajerial.
Kehadiran sarjana di sektor pertanian diharapkan mampu menggeser pola pikir lama, dari sekadar bercocok tanam menuju industri pengolahan hasil pertanian yang bernilai tambah.
“Kita akui bahwa di Kalteng kekurangan sumber daya manusia, terutama anak muda yang berkecimpung di bidang pertanian, sehingga dengan adanya anak muda yang berkecimpung di bidang pertanian, generasi muda bisa membuat sebuah padi menjadi sebuah produk,” tandasnya. (red)













